Modis Ngak Harus Terbuka Ini dia Tips Memadukan Hijab dan Celana Kulot dengan Berbagai Gaya

Salah satu fashion item yang bias dimiliki oleh para remaja wanita adalah kulot. Salah satu jenis bawahan yang merupakan perpaduan antara celana dengan rok ini memang saat ini banyak diminati. Padahal, kulot ini sudah dipakai sejak lama, lho!

Nah, buat kamu yang pengen tampil stylish tapi tetap rapi, padu padan kulot ini bisa jadi pilihan buat acara-acara semi formal bahkan formal. Selain kuliah, kamu juga bisa sekalian memakai kulot ini untuk rapat atau hang-out bareng temen sesudah kuliah. Cocok buat kamu yang nggak pengen ribet gonta-gonta baju di setiap acara harianmu!

Simak yuk gimana padu padannya!

  • Kulot dan T-shirt polos, ditambah jilbab motif bikin tampilan sederhanamu tapi tetap sporty lho!

Celana kulot navy dipadu dengan t-shirt polos warna moca bisa jadi pilihan agar harimu tetap santai. Jangan lupa untuk menambahkan jilbab motif berwarna senada supaya tampilanmu tidak terlihat monoton. Apabila ingin menambahkan kesan lucu dan sporty, kamu bisa menggunakan sepatu slip-on warna putih atau warna mocca.

Setelah kuliah harus pindah acara hang-out, dan nggak ada waktu untuk ganti baju? Tenang aja, style satu ini juga cocok buat main bareng, lho!

  • Punya jaket denim yang jarang dipakai? Padukan dengan celana kulot berwarna gelap adalah solusi jitu!

Fashion item denim ini belakangan memang sempat viral. Kamu salah satu yang jarang menggunakan jaket denim ini? Keluarkan dari lemarimu dan kombinasikan dengan kulot berwarna gelap, seperti hitam dan navy.

Untuk tampilan yang lebih catchy, padankan dengan t-shirt berwarna hitam yang dimasukkan ke dalam celana. Kemudian biarkan kancing jaket tidak tertutup.

  • Memadukan kulot motif memang susah-susah gampang. Tapi, coba deh eksplorasi gayamu dengan kemeja-kemeja polos!

Bosan dengan kulot yang itu-itu aja. Kulot motif bisa jadi alternatif, lho. Selain motifnya yang beragam, kamu bisa memilih beberapa motif yang sesuai dengan karakter kamu. Pilihlah motif yang kamu banget, ya. Kemudian padukan dengan atasan seperti blouse berwarna putih atau warna-warna pastel. Dijamin, tampilanmu jadi lebih kalem dan girly.

Kulot dengan motif etnik bisa jadi pilihan untuk menghadiri acara-acara formal, seperti menghadiri seminar kampus, rapat dewan organisasi, dan lain-lain.

  • Buatmu yang merasa bertubuh mini, mengenakan celana kulot bergaris vertical akan menyamarkan kaki pendekmu

Garis horisontal bisa membantu membuat kakimu lebih jenjang. Alhasil, kamu akan terlihat lebih tinggi saat menggunakan kulot bergaris ini. Apabila cuaca sedang tidak bersahabat, kamu bisa memadukannya dengan overcoat atau jaket parka. Hangat dan tetap fashionable

  • Kulot dan cardigan big size ini bisa jadi alternatif buat kamu yang berbadan kecil atau nggak PD sama ukuran pinggang

Punya tubuh yang ramping? Atau nggak PD dengan bentuk badan kamu yang terlalu lurus macam tiang bendera? Aplikasikan cardigan big size dengan kulot berwarna pastel saja supaya gayamu makin ter-upgrade! Jangan lupa beri t-shirt berwarna putih supaya cardigan yang kamu pakai bisa lebih terlihat lebar, ya!

Nah, itu dia 5 inspirasi mix and match kulot yang bisa kamu pakai di acara apa saja. Have a try!

Alat Teknologi Pertanian Ini Bantu Tingkat kan Produktivitas Petani

Teknologi dapat mempermudah hidup manusia, tak terkecuali di sektor pertanian. Adanya penetrasi teknologi pertanian dan fintech dinilai dapat tingkatkan produktivitas petani.

Ir. Sri Kuntarsih, MM, Direktur Pembiayaan Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan, Kementan memiliki forum fintech pertanian yang hampir seluruh anggotanya milenial. Di dalamnya, dibahas pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan hasil pertanian hingga efisiensi produksi.

“Sayangnya, 90 persen anggota forum ini fokus di sektor perdagangan. Mereka masih takut main-main ke budidaya karena risikonya yang lebih besar,” paparnya dalam Focus Group Discussion Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) di Jakarta.

Sementara, Slamet Edi Purnomo, Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, teknologi dapat meningkatkan efisiensi produksi, karena biaya produksi per unit jauh lebih murah.

“Investasi awalnya memang mahal karena beli teknologi, tapi setelah digunakan, teknologi dapat mengurangi cost per unit. Tujuan industrialisasi kan efisiensi, tapi tidak mengurangi kualitas produk, dengan adanya teknologi akan sejalan tujuan itu,” ujarnya.

Meski begitu, akses mendapatkan teknologi tersebut juga masih sulit. Jaringan internet masih minim, sedikitnya pendamping petani dalam penerapan teknologi serta kepentingan para petani sendiri. Sebagian besar petani yang memiliki ladang tidak lebih dari 1 hektare dan bertani untuk skala kecil dirasanya tidak begitu memerlukan teknologi.

“Infrastruktur sebenarnya tinggal dimaksimalkan, sudah ada Palapa Ring, saya kira jika benar-benar dimasifkan teknologi bisa membantu petani-petani kita,” tutup Slamet.

KEIN Bakal Kembangkan Program Pembiayaan Berkelanjutan bagi Petani

Sebelumnya, petani Indonesia dapat dikatakan belum sejahtera. Lantaran, akses modal bagi petani untuk mengembangkan lahannya masih sulit didapat.

Guna meningkatkan produktivitas petani khususnya petani padi, Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) berencana kembangkan program pembiayaan berkelanjutan bagi para petani.

Usulan pengembangan dihimpun dalam Focus Group Discussion KEIN bertajuk Strategi Permodalan yang Berkelanjutan dalam Pengembangan Agribisnis Padi, Senin (29/4/2019).

Ketua Pokja Pangan, Industri Pertanian dan Kehutanan KEIN, Benny Pasaribu menyatakan, Kredit Usaha Tani (KUT) masih belum menjawab keresahan petani.

“Saya kira pasca KUT, masalah permodalan petani masih belum juga selesai. Pertumbuhan produksi petani entah itu padi, jagung, semuanya meningkat, tapi apakah kesejahteraan petani ikut meningkat? Inilah yang harus kita bahas,” ujar dia di Jakarta.

Benny menambahkan, perbankan masih sulit menyebar kredit pada petani karena tidak adanya agunan dari petani. Padahal, Non Performing Loan (NPL) para petani cukup rendah, yaitu dibawah 3 persen, yang menandakan tanggung jawab para petani dalam membayar utang justru lebih baik.

“Oleh karenanya kita harapkan dari FGD ini menghasilkan formula yang tepat agar petani untung dan mandiri,” ujar dia.